IQ dan Kemakmuran Negara

Hubungan antara IQ dan kemakmuran suatu negara diteliti oleh Richard Lynn, Professor Emeritus of Psychology di University of Ulster – Irlandia Utara dan Tatu Vanhanen, Professor Emeritus of Political Science di University of Tampere – Finlandia. Berdasarkan penelitiannya terhadap 81 negara di dunia, mereka berhasil memetakan korelasi antara IQ dengan GDP adalah sebesar 0,82 dan korelasi IQ dengan laju pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 0,64. Pemetaan secara grafis pun disajikan dalam buku mereka, “IQ and the Wealth of Nations”, yang diterbitkan pada tahun 2002, menggambarkan sebaran populasi penduduk dunia beserta analisanya terhadap tingkat kemakmurannya. Secara ringkas, hasil tersebut seperti yang ada pada Gambar 1 dan Gambar 2 berikut.

Gambar 1 Peta sebaran IQ rata-rata penduduk dunia

Gambar 2 Peta sebaran tingkat kemakmuran negara-negara di dunia

Dari hasil penelitian ini tergambar suatu korelasi yang erat antara tingkat kecerdasan dengan kesejahteraan suatu negara. Penyimpangan hasil terjadi hanya pada negara RRC dan Mongol dimana keduanya mempunyai penduduk dengan IQ rata-rata yang tinggi namun tingkat kesejahteraannya berada para taraf sedang, setara dengan kesejahteraan bangsa Indonesia. Banyak analisa beredar seputar fenomena ini, di antaranya karena RRC selama 50 tahun menganut sistem komunis sebagai negara tirai bambu. Setelah membuka diri pada akhirnya perkembangan RRC di dekade belakangan ini membuka mata dunia atas kebenaran penelitian Lynn dan Vanhanen bahwa RRC kini tingkat kesejahteraannya telah menyamai negara-negara di Eropa dan Rusia, bahkan kekuatan ekonomi dan politik RRC saat ini menjadi termasuk yang sangat dipertimbangkan oleh negara-negara lain di dunia. Dalam sedikit kasus juga ditemukan adanya negara yang GDPnya tidak berhubungan dengan IQ karena sumber daya alamnya. Seperti Qatar, yang IQ rata-rata penduduknya 82 memiliki GDP 17.000 USD. Meski demikian, akhir dari penelitian Lynn dan Vanhanen ini menyimpulkan bahwa tingkat kecerdasan berkaitan dengan kesejahteraan suatu bangsa di mana “kesejahteraan” termasuk GDP negara, literasi, harapan hidup, dan demokratisasi.

Dalam buku barunya yang berjudul “Intelligence – A Unifying Construct for The Social Sciences”, tahun 2012, Lynn dan Vanhanen memaparkan korelasi yang lebih rinci lagi antara IQ dengan berbagai parameter kehidupan berbangsa dan bernegara seperti hubungan antara IQ dan capaian pendidikan, pengaruh kecerdasan pada pendapatan per kapita, pertumbuhan ekonomi, dan variabel-variabel ekonomi lainnya. Pada aspek sosial juga dikupas hubungan antara IQ dengan kesehatan, tingkat harapan hidup, kesuburan, tingkat kriminal, agama dan kepercayaan, kebahagiaan, dan IHC (Indexes of Human Conditions). Semua gambaran tentang tingkat kecerdasan manusia pada berbagai negara ini akhirnya menunjukkan hubungan yang erat dan sedang pada kehidupan umat manusia itu sendiri. Analisa ini mendukung argumen inti Lynn dan Vanhanen tentang pentingnya IQ nasional sebagai faktor penjelas paling signifikans di balik ketidaksamaan global pada kondisi manusia.

Inilah yang melatarbelakangi gagasan akan program Indonesia Jenius, yaitu apabila tingkat kecerdasan rata-rata bangsa Indonesia atau IQ Nasional bangsa Indonesia mampu meningkat dengan cepat melalui suatu proses penanganan atau intervensi yang dilakukan secara komprehensif, maka akan terjadi suatu peningkatan kualitas kehidupan pada diri setiap individu yang pada akhirnya juga meningkatkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dampak nyata yang akan terjadi tentu akan berkaitan langsung dengan percepatan pembangunan dan di segala bidang dan pada penguatan ketahanan nasional negara Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*