Plastisitas Kecerdasan

Penelitian tentang IQ yang cukup fenomenal dan tidak bersifat konvensional dipaparkan oleh James Flynn, seorang peneliti ilmu sosial di Universitas Otago – Selandia Baru. Flynn berhasil mengumpulkan data IQ dari sampel penduduk 30 negara di dunia, dan menemukan pola kecenderungan yang tidak jauh berbeda. Ia melihat adanya fenomena peningkatan IQ manusia sebesar 0,3 poin setiap tahunnya atau 3 poin setiap dekade, yang kemudian dikenal sebagai Flynn-effect, yang di kemudian hari menuai banyak tanggapan dan kontroversi. Namun kontroversi ini justru membuka pemahaman baru akan kecerdasan yang dibuktikan kemudian oleh Flynn yang mematahkan pandangan bahwa IQ terikat oleh faktor genetik dan ras sebagaimana yang dipahami oleh para “fundamentalis IQ”.

Menurut Flynn, untuk memahami mengapa IQ bisa meningkat antar generasi adalah dengan melihat salah satu alat uji IQ yang paling sering digunakan, yaitu WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children). WISC terdiri atas sepuluh jenis tes yang mengukur aspek berbeda dari IQ. Flynn menunjukkan bahwa skor di beberapa kategori seperti pengetahuan umum, aritmetika, atau perbendaharaan kata tidak terlihat meningkat signifikan dalam kurun waktu tertentu. Penambahan skor secara signifikan dari waktu ke waktu terlihat pada sebuah tes “similarities ,” dimana kita akan mendapatkan pertanyaan seperti “dalam hal apa seekor kelinci mempunyai kesamaan dengan anjing?”. Saat ini, dengan tujuan mendapatkan hasil tes IQ yang bagus, kita bisa menjawab : anjing dan kelinci sama – sama tergolong binatang mamalia. Jawaban berbeda dari pertanyaan ini kita dapatkan dari seseorang yang hidup di abad 19 : anjing digunakan untuk berburu kelinci.

“Jika dunia sehari-hari adalah wilayah kognitif kita, maka akan menjadi tidak alami ketika kita memisahkan konsep dan logika dari sebuah bentuk konkrit sebagai referensinya,” tulis Flynn dalam bukunya. Nenek moyang kita bisa saja memiliki tingkat intelegensi yang sangat bagus. Tetapi mereka akan mengalami kegagalan ketika mereka melakukan uji IQ saat ini, karena mereka tidak merasakan evolusi pemahaman kognitif abad 20 seperti kita saat ini, yang membuat kita memahami pengalaman kita berdasarkan sebuah pengkategorian yang baru. Dengan kata lain, Flynn mengatakan bahwa kita saat ini telah menggunakan “kacamata saintifik” yang berbeda dibandingkan dengan para nenek moyang kita ketika kita menjawab tes IQ. Maka, ketika terjadi perbedaan hasil tes IQ yang diterima Flynn dari seorang remaja usia 18 tahun di Belanda pada 1952 dan 1982, kita dapat mengatakan bahwa Belanda pada tahun 1982 secara kognitif lebih demanding dibandingkan Belanda pada tahun 1952. Dengan kata lain, menurut Flynn, IQ tidak hanya mengukur seberapa cerdaskah kita, tetapi juga seberapa modernkah kita.

Pernyataan di atas adalah sebuah perbedaan yang sangat penting. Sebagai contoh, ketika anak – anak dari para imigran Italia di Amerika di awal abad ini menerima uji IQ, sebagian besar mempunyai skor 70 – 80, yang tentu saja jauh dibawah IQ rata-rata anak Amerika dan Eropa. Hasil uji IQ rata-rata para imigran italia ketika itu setingkat dengan hasil uji IQ afro-amerika dan hispanik. Dan bisa kita bayangkan saat itu terdapat sebuah stigma yang cenderung merendahkan para imigran Italia, Afrika, dan Hispanik. Namun, yang terjadi saat ini sangat berlainan. Stigma negatif telah hilang dari ras italo-amerika. Menurut para psikolog hal ini disebabkan karena kemampuan para imigran Italia ini untuk merubah haluan dan meninggalkan pergaulan mereka dengan imigran afrika serta hispanik. Hal ini mungkin telah menyebabkan para italo-amerika ini bisa berasimilasi secara masal kedalam masyarakat Amerika.

Seorang Psikolog bernama Michael Cole dan beberapa koleganya pernah mencoba memberikan tes WISC bagian “similarities” pada suku kpelle, di Liberia. Cole dan timnya membawa seperangkat benda yang termasuk dalam kategori makanan, pakaian, dan perkakas. Cole menyuruh anggota suku tersebut untuk mengelompokkan benda-benda tersebut dalam kelompok tertentu. Yang membuat frustasi Cole adalah mereka semua mengelompokkan benda-benda tersebut berdasarkan hubungan fungsinya. Kentang dikelompokkan dengan pisau, karena pisau digunakan untuk mengupas kentang. “ini adalah cara orang cerdas di suku ini berkerja,” ujar seorang anggota suku Kpelle terhadap hasil pengkategoriannya. “lalu, bagaimana cara seorang bodoh di suku ini mengelompokkan benda-benda ini?,” tanya Cole. Maka seluruh anggota suku Kpelle mengelompokkan kentang ke dalam kategori makanan, dan pisau kedalam kategori perkakas. Dari kasus ini bisa dikatakan bahwa kemampuan pengkategorian benda merupakan sebuah pengetahuan yang dikembangkan. Tetapi untuk memberi label pada suku Kpelle bahwa mereka kurang cerdas dibandingkan barat, berdasarkan hasil tes ini, hanya menunjukkan bahwa suku Kpelle mempunyai perbedaan dalam pemahaman kognitif dan kebiasaan. Dan satu hal penting, kebiasaan dan pemahaman kognitif bisa diadopsi dan berubah dari generasi ke generasi.

Kasus terakhir yang mematahkan keterkaitan IQ dengan faktor genetik dan ras adalah kasus perkawinan antar ras. Menurut Flynn, jika IQ ditentukan oleh faktor genetik dan ras, maka seharusnya tidak ada perbedaan IQ antara seorang yang terlahir dari komposisi perbedaan ras dalam perkawinan. Tetapi fakta berbicara lain. Seorang anak dengan Ibu kulit putih dan Ayah kulit hitam mempunyai IQ lebih tinggi delapan poin dibandingkan dengan anak beribu kulit putih dan berayah kulit hitam. Tetapi sebuah fakta kembali berbicara lain : anak yang terlahir dari ayah kulit hitam tentara Amerika, dan Ibu berkebangsaan Jerman pasca PD II, dan dibawa ke Jerman ternyata mempunyai IQ sama dengan anak yang terlahir dari tentara Amerika kulit putih dan berIbu Jerman pasca PD II. Kesamaan IQ ini tidak dipengaruhi sama sekali oleh adanya kombinasi ras dalam perkawina. Tapi ini semata-mata karena kedua anak ini sama-sama tinggal di Jerman, sehingga mengalami sebuah dunia,budaya, dan kondisi yang sama. “Pikiran manusia sangat mirip dengan otot,” ujar Flynn. “Ia membutuhkan latihan kognitif. Dia bukan seperti seonggok lumpur yang tak bisa dibentuk sama sekali.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*