Apakah Jenius Itu?

Kita mungkin sudah tak asing lagi dengan kata “jenius”. Kata ini bahkan sudah kita dengar semenjak masih anak-anak dan bermakna sesuatu kecerdasan yang super di atas rata-rata kecerdasan manusia pada umumnya. Ya, itu adalah pengertian umum dari kata jenius. Secara ilmiah, kata jenius sendiri sebenarnya masih belum memiliki definisi atau ruang lingkup yang baku. Sebagian orang mengaitkan jenius dengan kemampuan berpikir kreatif atau out of the box. Ini adalah pendekatan yang digunakan dalam dunia motivasi. Pendekatan psikologi yang berusaha mendefinisikan kejeniusan dengan cara yang objektif menghantarkannya pada terciptanya suatu alat ukur kecerdasan yang disebut dengan IQ (Intellectual Quotient).

Sejak dikembangkannya IQ, tingkat kecerdasan individu khususnya kecerdasan intelektual dimana tingkatan tertingginya disebut sebagai jenius, diukur dengan alat ukur IQ ini. Sejak itu, para peneliti psikologi menjadikan skor IQ tertentu sebagai batasan kejeniusan seseorang. Skala IQ untuk menentukan kejeniusan pertama kali digunakan oleh Lewis Terman yang memilih untuk menggunakan istilah “mendekati jenius” atau “jenius” sebagai nama klasifikasi bagi kelompok tertinggi pada tes IQ Stanford Binet buatannya di tahun 1916. Pada alat ukur ini, seseorang yang mencapai skor IQ 140 ke atas disebut sebagai mempunyai intelektual jenius.

Namun demikian, para pakar memiliki perbedaan pendapat dalam memahami kejeniusan. Dalam buku “The Early Mental Traits of 300 Geniuses – Genetic Studies of Genius Volume 2”, seorang yang jenius didefinisikan sebagai orang yang menunjukkan kemampuan intelektual yang luar biasa, yang ditunjukkan dalam hasil kerja yang kreatif dan orisinal. Sementara Immanuel Kant mengatakan bahwa Jenius adalah bakat untuk menghasilkan sesuatu dimana tidak ada aturan tertentu yang dapat diberikan, bukan sebuah kemampuan yang mengandung suatu keterampilan untuk sesuatu yang dapat dipelajari dengan mengikuti aturan-aturan atau lainnya.

Atas dasar perbedaan pandangan ini, berbagai pihak melakukan studi yang komprehensif terhadap kejeniusan. Banyak pihak sepakat bahwa pada dasarnya setiap manusia terlahir jenius. Namun itu tidak berarti bahwa semua manusia jenius. Ini disebabkan karena seseorang dapat kehilangan kejeniusannya selama proses hidupnya. Hal ini pula yang membuka penelitian terbaru bahwa kejeniusan dapat dipulihkan dan dikembangkan, yang juga didukung dengan adanya pengetahuan tentang plastisitas otak. Dan karena kejeniusan merupakan sebuah ciri keunggulan mental seseorang, maka kejeniusan memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan ciri-ciri mental yang tidak jenius.

Berdasarkan hasil penelitian Dr. Linda Silverman direktur Gifted Development Center di Canada, ciri-ciri genius adalah sebagai berikut:

  • Mempunyai kemampuan bernalar yang bagus
  • Bisa belajar dengan cepat
  • Memiliki perbendaharan kata yang luas
  • Mempunyai kemampuan mengingat yang baik
  • Bisa berkonsentrasi lama pada hal-hal yang menarik bagi dirinya
  • Sensitif perasaannya dan mudah merasakan emosi (emphatic)
  • Cepat menunjukkan rasa peduli
  • Perhatian terhadap rasa keadilan
  • Bisa mengambil keputusan dengan matang untuk yang seusianya
  • Suka mengamati
  • Gemar berimajinasi
  • Perfeksionis
  • Intensif (mempunyai keseriusan akan sesuatu)
  • Mempunyai kepekaan moral
  • Mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi
  • Mempunyai minat yang kuat
  • Mempunyai stamina yang bagus
  • Lebih suka bergaul dengan yang lebih tua atau lebih dewasa
  • Mempunyai banyak minat di beberapa hal
  • Lucu dan menggelikan hati
  • Suka membaca
  • Memiliki banyak akal
  • Cenderung suka mempertanyakan otoritas
  • Mempunyai kecakapan dalam berhitung
  • Bagus dalam permainan jigsaw puzzles atau yang semisalnya

Studi lebih lanjut tentang kejeniusan yang dilakukan oleh Cognitive Science yang memandang kejeniusan tidak hanya dari sisi psikis, melainkan juga dari sisi performa pikiran sebagaimana performa suatu sistem, maka disimpulkan bahwa kejeniusan adalah kualitas dari kerja pikiran, mengacu pada performa yang tidak umum / luar biasa (extraordinary). Keluarbiasaan ini sangat luas lingkupnya, intinya terkait dengan keluarbiasaan pemikiran dalam menghasilkan ide, karya, kemampuan proses kognitif ataupun tindakan yang berprestasi tinggi.

Secara pengukuran, kejeniusan tetap diukur berdasarkan pada pola ektraordinarinya seseorang. Jadi contohnya:

  1. Ketika seseorang mampu memenangkan nobel dan nobel itu benar-benar bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan dan bagi umat manusia, maka ia seorang jenius.
  2. Ketika seorang anak SD mampu memproses operasi integral differensial yang secara umum dikuasai oleh individu dengan tingkatan SMA, maka anak itu jenius.
  3. Ketika seseorang mampu menghafal Al Qur’an secara keseluruhan hanya dengan 30 hari dimana mayoritas manusia tidak mampu melakukannya, maka ia jenius.
  4. Ketika seseorang mampu memecahkan suatu pola permasalahan rumit yang ketika permasalahan itu dibuka belum ada orang yang mampu memecahkannya, maka ia adalah seorang jenius.
  5. Ketika seseorang mampu menemukan keunikan yang merupakan keunggulan utama dirinya sendiri, dan ia mampu mengembangkannya menjadi sesuatu yang inovatif secara orisinal, maka ia adalah seorang jenius.
  6. Ketika seorang atlet mampu memaksimalkan performa otaknya sehingga mampu menggerakkan tubuhnya dengan respon dan keahlian yang tidak dimiliki oleh atlet-atlet lainnya, maka ia juga jenius.
  7. Ketika seorang seniman mampu menciptakan mahakarya yang sangat dikagumi oleh setiap orang yang mengapresiasinya dan tak lekang dimakan zaman, maka ia juga seorang jenius.
  8. Seorang pebisnis yang mampu memikirkan konsep bisnisnya secara matang dan menjadi bisnis yang berkembang pesat yang membuat perubahan besar pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat, maka ia juga seorang jenius.

Dengan demikian kita dapat memahami bahwa kejeniusan tidak selalu terkait dengan IQ 140 ke atas. Tes IQ hanyalah salah satu metode pengukuran kejeniusan dan merupakan upaya jenius yang berusaha memberikan acuan objektif bagi pengukuran tingkat kecerdasan individu. Tercatat beberapa penemu dan peraih penghargaan nobel yang menghasilkan karya atau temuan jenius, memiliki IQ yang berkisar 120. Kejeniusan terkait dengan kemampuan memberdayakan pikiran secara maksimal hingga mencapai pada fitrah jeniusnya manusia sebagaimana awal ia diciptakan dan sesuai dengan spesifikasinya (bakatnya) masing-masing.

2 Comments to “Apakah Jenius Itu?”

  1. apa perbedaan di kedua nya?

  2. nice website, thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*